SearchBox

Senin, 18 April 2011

Budidaya Krisan



1.Pendahuluan
Krisan atau dikenal juga dengan sebutan bunga seruni, merupakan tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan potensial untuk dikembangkan secara komersial. Tanaman ini diperkirakan berasal dari Asia Timur tepatnya daratan Cina. Belum ditemukan data atau informasi yang pasti tentang kapan tanaman krisan masuk ke wilayah Indonesia. Namun, beberapa literatur menunjukkan sekitar tahun 1800 krisan mulai ditanam di Indonesia dan sejak tahun 1940, krisan mulai dibudidayakan secara komersial sebagai tanaman hias. Beberapa daerah sentra produksi tanaman hias krisan di antaranya adalah Cipanas (Cianjur), Sukabumi, Lembang (Bandung), Bandungan (Jawa Tengah), Malang (Jawa Timur), dan Berastagi (Sumatera Utara). Pada saat ini krisan telah dibudidayakan di daerah-daerah lain, seperti NTB, Bali Sulawesi Utara dan Sumatera Selatan.
Pada perdagangan internasional tanaman hias, krisan merupakan komoditas bunga potong andalan yang penting. Pada tahun 2003, perdagangan komoditas ini di Indonesia mengalami surplus sekitar US $ satu juta. Ekspor komoditas non anggrek ini ke negara-negera tujuan seperti Hongkong, Jepang, Singapura dan Malaysia pun mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun, dan proyeksi ekspor pada tahun 2007 diperkirakan mencapai sekitar US $ 15 juta (BPS, 2005). Sekalipun demikian, hingga saat ini pasokan krisan belum mencukupi kebutuhan permintaan dunia. Negara-negara penghasil utama krisan seperti Jepang dan Belanda hanya mensuplai kurang dari 60% dan kontribusi negara-negara penghasil krisan di Asia Tenggara seperti Indonesia hanya sekitar 10 % dari total permintaan dunia. Dengan demikian, peluang bisnis bunga krisan masih sangat menjanjikan. Peningkatan ekspor bunga krisan dengan mutu yang memadai ke pasaran internasional masih sangat terbuka lebar.
Kualitas dan mutu bunga adalah faktor yang sangat mempengaruhi harga jual bunga potong krisan. Banyak kasus menunjukkan bahwa bunga potong krisan yang dihasilkan oleh petani tradisional di Indonesia bermutu rendah. Hal ini berdampak terhadap harga jual bunga yang rendah dan tidak dapat menutup biaya produksi yang telah dikeluarkan. Akibatnya, usaha tani krisan menjadi tidak ekonomis dan kurang menguntungkan, sehingga banyak petani krisan mengalihkan usahanya pada bidang lain. Oleh karena itu, peningkatan produksi harus disertai dengan perbaikan teknologi budidaya untuk meningkatkan kualitas produksi hingga akhirnya diharapkan terjadi peningkatan harga jual produk. Perbaikan teknik budidaya ini dilakukan dengan menerapkan teknologi budidaya anjuran spesifik lokasi dan komponen-komponen lain dalam budidaya secara terpadu. Beberapa aspek budidaya tanaman krisan bunga potong akan dijelaskan pada bab-bab berikutnya beserta hal-hal yang melatar belakanginya.

2.Jenis Tanaman
Klasifikasi botani tanaman hias krisan adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Asterales
Suku : Asteraceae
Marga : Chrysanthemum
Jenis : Chrysanthemum sp.
Nama Daerah : Krisan, Seruni (Jawa)

Deskripsi
Habitus : Terna, tinggi 0,5-1 m.
Akar : Tunggang, putih.
Batang : Tegak, bulat, sedikit bercabang, permukaan kasar, hijau.
Daun : Tunggal, berseling, lonjong, ujung runcing, pangkal membulat, tepi bertoreh, panjang 7-13 cm, lebar 3-6 cm pertulangan menyirip, tebal, permukaan kasar, hijau.
Bunga : Majemuk, bentuk cawan, di ketiak daun atau di ujung batang, garis tengah 3-5 cm, kelopak bentuk cawan, ujung runcing, hijau, benang sari dan putik halus, berkumpul di tengah bunga, mahkota lonjong, lepas, panjang 3-8 mm, kuning.
Buah : Lonjong, kecil, ditutupi selaput buah, masih muda putih setelah tua hitam.
Biji : Lonjong, kecil, hitam.

Jenis dan varietas tanaman krisan di Indonesia umumnya hibrida berasal dari Belanda, Amerika Serikat dan Jepang. Krisan yang ditanam di Indonesia terdiri atas:
1)Krisan lokal (krisan kuno): Berasal dari luar negri, tetapi telah lama dan beradaptasi di Indoenesia maka dianggap sebagai krisan lokal. Ciri-cirinya antara lain sifat hidup di hari netral dan siklus hidup antara 7-12 bulan dalam satu kali penanaman. Contoh C. maximum berbunga kuning banyak ditanam di Lembang dan berbunga putih di Cipanas (Cianjur).
2) Krisan introduksi (krisan modern atau krisan hibrida): Hidupnya berhari pendek dan bersifat sebagai tanaman annual. Contoh krisan ini adalah C. indicum hybr. Dark Flamingo, C. i.hybr. Dolaroid,C. i. Hybr. Indianapolis (berbunga kuning) Cossa, Clingo, Fleyer (berbunga putih), Alexandra Van Zaal (berbunga merah) dan Pink Pingpong (berbunga pink).
3) Krisan produk Indonesia: Balai Penelitian Tanaman Hias Cipanas telah melepas varietas krisan buatan Indonesia yaitu varietas Balithi 27.108, 13.97, 27.177, 28.7 dan 30.13A.

Manfaat Tanaman
Kegunaan tanaman krisan yang utama adalah sebagai bunga hias. Manfaat lain adalah sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga. Sebagai bunga hias, krisan di Indonesia digunakan sebagai:
a. Bunga pot
Ditandai dengan sosok tanaman kecil, tingginya 20-40 cm, berbunga lebat dan cocok ditanam di pot, polibag atau wadah lainnya. Contoh krisan mini (diameter bunga kecil) ini adalah varietas Lilac Cindy (bunga warna ping keungu-unguan), Pearl Cindy (putih kemerah-merahan), White Cindy (putih dengan tengahnya putih kehijau-hijauan), Applause (kuning cerah), Yellow Mandalay (semuanya dari Belanda).Krisan introduksi berbunga besar banyak ditanam sebagai bunga pot, terdapat 12 varitas krisan pot di Indonesia, yang terbanyak ditanam adalah varietas Delano (ungu), Rage (merah) dan Time (kuning).
b. Bunga potong
Ditandai dengan sosok bunga berukuran pendek sampai tinggi, mempunyai tangkai bunga panjang, ukuran bervariasi (kecil, menengah dan besar), umumnya ditanam di lapangan dan hasilnya dapat digunakan sebagai bunga potong. Contoh bunga potong amat banyak antara lain Inga, Improved funshine, Brides, Green peas, Great verhagen, Puma, Reagen, Cheetah, Klondike.
Khasiat kembang krisan (Chrysanthemum sp.) dalam dunia pengobatan misalnya, untuk menyembuhkan sakit batuk,nyeri perut karena angin dan peradangan rongga sinus(sinusitis), sakit batuk produktif(batuk berdahak) akibat bronkhitis. Selain itu krisan juga mampu menurunkan demam,menurunkan tekanan darah,memperbaiki penglihatan,memberi gizi pada darah,serta menurunkan panas dalam.Di samping itu rasanya nikmat dan menyejukan tenggorokan.Karena khasiat-khasiat tersebut bunga krisan termasuk salahsatu bahan ramuan yang penting pada pengobatan tradisional Cina. Krisan jenis Chrysanthemum morifolium atau Chrysanthemum indicum, yang warna putih atau kuning bisa dijadikan teh krisan (Chrysanthemum Tea) Khasiatnya untuk menyembuhkan influenza, jerawat dan mengobati panas dalam dan sakit tenggorokan. Bisa juga untuk obat demam, mata panas dan berair, pusing-pusing serta untuk membersihkan liver.
Bunga krisan berkhasiat sebagai obat sakit bengkak pada mata dan untuk obat luka. Untuk obat bengkak mata dipakai + 10 gram bunga krisan, dicuci dan direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih lalu dinginkan sampai hangat-hangat kuku. Air hasil rebusan digunakan untuk merendam atau mengkompres mata yang sakit.



3. Syarat Tumbuh Tanaman Krisan
Krisan umumnya dibudidayakan dan tumbuh baik di dataran medium sampai tinggi pada kisaran 650 hingga 1.200 m dpl. Di habitat aslinya, krisan merupakan tanaman yang bersifat menyemak dan dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 30 – 200 cm. Berdasarkan siklus hidupnya, krisan dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu krisan semusim (hardy annual) dan krisan tahunan (hardy perennial). Tanaman krisan yang dibudidayakan saat ini merupakan krisan modern hasil hibridisasi, seleksi dan rekayasa genetik yang telah dilakukan para pemulia krisan sejak lama, sehingga kebanyakan krisan modern ini bersifat poliploid dan secara genetik sangat heterogen. Perubahan-perubahan yang terjadi pada krisan modern ini terutama pada karakter ketahanan terhadap stress lingkungan, hama dan penyakit, atau kualitas bunga seperti warna, bentuk serta tipe bunga.
Di Indonesia, budidaya krisan umumnya dilakukan di dalam rumah lindung yang dapat berupa rumah kaca atau rumah plastik. Rumah lindung ini berfungsi untuk memberikan kondisi lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan tanaman krisan yang optimal. Modifikasi lingkungan tumbuh pun dapat dilakukan melalui penerapan teknik budidaya yang sesuai hingga memberikan iklim mikro yang optimal untuk pertumbuhan tanaman dan mengurangi pengaruh negatif lingkungan seperti intensitas cahaya matahari yang tinggi, terpaan air hujan langsung dan amplitudo suhu harian yang tinggi serta serangan serangga hama dan patogen.
Di dalam rumah lindung, tanaman krisan ditanam pada bedengan dengan jarak tanam tertentu. Tanaman krisan tumbuh baik di tanah bertekstur liat berpasir, dengan kerapatan jenis 0,2 – 0,8 g/cm3 (berat kering), total porositas 50 – 75 %, kandungan air 50 – 70 %, kandungan udara dalam pori 10 – 20 %, kandungan garam terlarut 1 – 1,25 dS/m2 dan kisaran pH sekitar 5,5 – 6,5. Kondisi ini dapat dicapai dengan memodifikasi media tumbuh dalam bedengan. Media tumbuh berupa campuran tanah, humus bambu dan pupuk kandang (1:1:1) memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan tanaman dan diameter bunga yang maksimal dan seragam.
Krisan berasal dari daerah subtropis, sehingga suhu yang terlalu tinggi merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman. Krisan dapat tumbuh pada kisaran suhu harian antara 17 sampai 30 oC. Pada fase vegetatif, kisaran suhu harian 22 sampai 28 oC pada siang hari dan tidak melebihi 26 oC pada malam hari dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal krisan. Suhu harian ideal pada fase generatif adalah 16 sampai 18 oC. Suhu di atas 25 oC, proses inisiasi bunga akan terhambat dan menyebabkan pembentukan bakal bunga juga terlambat. Suhu yang terlalu tinggi juga mengakibatkan bunga yang dihasilkan cenderung berwarna kusam, pucat dan memudar.
Berdasarkan tanggap tanaman terhadap panjang hari, krisan tergolong tanaman berhari pendek fakultatif. Batas kritis panjang hari (Critical Daylenght-CDL) krisan sekitar 13,5 – 16 jam tergantung genotipe. Krisan akan tetap tumbuh vegetatif bila panjang hari yang diterimanya lebih dari batas kritisnya dan akan terinduksi untuk masuk ke fase generatif (inisiasi bunga) bilamana panjang hari yang diterimanya kurang dari batas kritisnya. Mendasarkan pada sifat sensitif krisan terhadap panjang hari, modifikasi lingkungan berupa penambahan cahaya dengan menggunakan lampu pada malam hari perlu dilakukan pada budidaya krisan potong, untuk memperoleh tinggi tanaman yang diharapkan (fase vegetatif) sebelum berbunga. Hubungan antara lama periode hari panjang terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun pada krisan disajikan pada gambar1.


Gambar 1. Pengaruh periode hari panjang terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun pada tanaman krisan (Maaswinkel dan Sulyo, 2004).

Kepekaan krisan terhadap panjang hari tidak tetap. Pengaruh panjang hari terhadap fisiologi pembungaan krisan sering kali berinteraksi dengan suhu harian. Pada kondisi hari panjang dengan suhu siang hari sekitar 22 oC dan 16 oC pada malam hari, penambahan tinggi tanaman dan pembentukan daun berjalan optimal. Induksi ke fase generatif akan terjadi bila suhu pada siang hari turun kurang dari 18 oC dan suhu malam naik hingga lebih dari 25 oC. Namun keadaan ini sangat jarang diketemukan pada dataran medium hingga tinggi di Indonesia. Selain suhu dan panjang hari, kualitas cahaya juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman krisan. Jumlah reseptor cahaya/photoreseptor (phytochrome) merah (Pr) dan merah jauh (Pfr) pada daun pun turut berperan pada proses fisologis pembungaan tanaman krisan. Belum diketahui secara pasti mekanisme kerja photoreseptor ini pada perubahan fisologis tanaman. Beberapa ahli memperkirakan bahwa mekanisme kerja photoreseptor berhubungan dengan ritme circadian (circadian rythme) tanaman. Kedua bentuk photoreseptor (Pr dan Pfr) bisa berkonversi satu sama lain tergantung jenis sinar yang diterimanya. Bila tanaman menerima lebih banyak sinar merah, maka Pr akan terkonversi menjadi Pfr dan menyebabkan jumlah Pfr bertambah, begitu pula sebaliknya. Konversi Pr menjadi Pfr pun dapat terjadi bila tanaman berada pada fase gelap (De Jong, 1980). Dan bila jumlah Pfr lebih banyak dari Pr pada selang waktu tertentu, maka pertumbuhan apikal (apical dominace) akan terhenti dan tanaman terinduksi (evocation) ke fase generative.
Kelembaban udara juga berpengaruh terhadap pertumbuhan bunga krisan. Tanaman krisan membutuhkan kelembaban 90 – 95% pada awal pertumbuhan untuk pembentukan akar. Sedangkan pada tanaman dewasa, pertumbuhan optimal dicapai pada kelembaban udara sekitar 70 – 85%. Evapotranspirasi pada pertanaman krisan pada saat matahari penuh (musim kemarau) dapat mencapai 5 – 7 liter/m2/hari. Evapotranspirasi maksimum ini tercatat pada saat tanaman mencapai tinggi sekitar 25 cm pada bedengan.


4. Sarana dan Prasarana Produksi
4.1. Rumah lindung
Rumah lindung untuk budidaya krisan bertujuan melindungi tanaman dari kondisi cuaca dan lingkungan ekstrim yang dapat memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan tanaman, seperti intensitas cahaya matahari yang terlalu tinggi dan terpaan angin dan air hujan secara langsung serta organisme pengganggu tanaman, sehingga diperoleh lingkungan tempat tumbuh yang optimal.
Rumah lindung dibuat memanjang disesuaikan dengan ukuran lahan, dengan lebar kelipatan dari 6,4 m. Rangka rumah lindung dapat berupa kayu, bambu, besi, aluminium, atau beton. Rumah lindung dengan konstruksi bahan kayu dan bambu disajikan pada gambar 2. Ketinggian rumah lindung berkisar 3 – 4 meter di atas permukaan tanah. Bahan atap penutup rumah lindung dapat menggunakan kaca, plastik UV, plastik PVC bergelombang, plastik lembaran PVC, fiberglass, acrylic atau polycarbonate. Seluruh bagian samping rumah lindung dianjurkan juga tertutup untuk mengurangi kontak langsung tanaman dengan serangga hama dan penyakit serta untuk meningkatkan kondisi lingkungan tumbuh yang kondusif untuk pertumbuhan tanaman.

Gambar 2. (a) Konstruksi rumah lindung krisan dari bahan kayu dan besi dengan screen penutup samping berwarna putih dan, (b) konstruksi rumah lindung dengan bahan bambu dengan screen penutup samping berwarna hijau.

Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pemilihan bahan atap pelindung adalah penekanan fungsi atap sebagai pelindung tanaman terhadap:
• cahaya yang berlebihan sehingga diperoleh kualitas cahaya, baik intensitas maupun spektrum cahaya di bawah rumah lindung yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman yang optimal
• curah hujan langsung ke tanaman atau ke media tumbuh, untuk menghindari hambatan fisiologis tanaman dan penurunan kondisi/daya dukung media tanam
• ketersediaan bahan dan durasi pemakaian bahan atap.
Petani krisan tradisional di Indonesia umumnya menggunakan konstruksi bambu atau kayu untuk rumah lindung.
Melalui riset di lokasi Balai Penelitian Tanaman Hias, Maaswinkel dan Sulyo (2004) mengemukakan bahwa penggunaan bambu dibandingkan kayu sebagai bahan konstruksi rumah lindung krisan dimungkinkan dengan mempertimbangkan harga bahan konstruksi dan ketersediaannya di lokasi budidaya. Lebih lanjut, durasi ketahanan konstruksi merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian. Ketahanan bambu diperkirakan hanya 3 – 5 tahun, sedangkan kayu diperkirakan dapat mencapai 10 tahun.
Bentuk, tipe dan sirkulasi udara (ventilasi) dalam rumah lindung juga merupakan salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian sebelum membuat rumah lindung krisan. Bentuk, tipe dan sirkulasi udara dalam rumah lindung akan mempengaruhi kondisi iklim mikro dalam rumah lindung dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Berbagai bentuk dan tipe rumah lindung krisan dapat dilihat pada gambar 3. Pertimbangan pemilihan bentuk dan tipe serta ventilasi rumah lindung disesuaikan dengan kondisi lahan, elevasi, topograpi dan faktor-faktor iklim makro lain pada lahan pertanaman, hingga bentuk dan tipe rumah lindung yang dibangun dapat memodifikasi iklim mikro di dalamnya hingga kondusif untuk pertumbuhan optimal bagi tanaman krisan.



Gambar 3. Beberapa tipe atau bentuk rumah lindung yang dapat digunakan dalam budidaya krisan (foto: Sulyo).

4.2. Sarana irigasi
Air berguna untuk proses metabolisme tanaman krisan. Dalam tubuh tanaman, air berfungsi tidak hanya sebagai penjaga kestabilan suhu tanaman hingga proses-proses kimia metabolisme dalam tubuh tanaman dapat berjalan, tetapi juga air berfungsi sebagai salah satu unsur utama proses fotosintesis dan proses-proses sintesis senyawa-senyawa penting lainnya. Selain itu air juga berfungsi sebagai alat transpor senyawa dari bagian tanaman yang satu ke bagian tanaman yang lainnya.
Pertanaman krisan air dapat diberikan melalui beberapa cara, yaitu siraman secara manual, pemboyoran (flooding system), dengan menggunakan irigasi tetes (sistem drip) dan irigasi curah (springkler irrigation). Kombinasi dua cara yang disebutkan terakhir sangat dianjurkan pada budidaya krisan. Kedua cara ini memungkinkan pupuk juga dapat diberikan bersama-sama dengan pemberian air pada tanaman agar tersebar merata. Saat tanaman masih muda, pemberian air dapat dilakukan melalui springkler. Metode ini memiliki kelebihan yaitu air dapat tersebar dan diterima tanaman secara merata dan media tumbuh tanaman dalam bedengan dapat dijenuhkan dengan sempurna hingga pertumbuhan akar tanaman muda tidak terhambat. Namun demikian, metode ini mengakibatkan kelembaban pada lingkungan pertanaman tinggi serta daun dan tubuh tanaman terbasahi oleh air, hingga berpotensi terjadi serangan penyakit terutama karat putih yang disebabkan oleh Puccinia horiana. Oleh karena itu, pemberian air melalui sistem springkler dianjurkan pada pagi hari hingga tubuh dan daun tanaman yang terbasahi dapat kering menjelang siang hari.
Setelah tanaman dewasa, pemberian air dapat dilakukan melalui sistem drip (irigasi tetes). Sistem ini dilakukan untuk mengurangi risiko serangan penyakit. Air dapat diberikan 3 kali seminggu dengan jumlah sekitar 6 – 15 liter/m2 areal pertanaman per sekali aplikasi, tergantung musim dan jenis tanah. Pada saat tanaman tumbuh dewasa, kanopi tanaman dapat saling menutupi sehingga kelembaban udara di lingkungan pertanaman tinggi. Pemberian air dengan sistem drip memungkinkan air dapat diberikan pada media tumbuh dan tidak membasahi daun tanaman.

3.3 Sarana instalasi pencahayaan.
Tanaman krisan membutuhkan panjang hari tertentu untuk tetap tumbuh vegetatif. Panjang hari yang dibutuhkan untuk fase vegetatif adalah lebih dari batas kritisnya (13,5 – 16 jam). Di daerah tropis seperti Indonesia, panjang hari berkisar kurang dari 12 jam (10½ jam efektif dengan intensitas penuh). Oleh karena itu, untuk fase vegetatif pada budidaya krisan, pemberian cahaya tambahan dengan menggunakan lampu pada malam hari mutlak diperlukan.
Intensitas cahaya lampu untuk tanaman krisan pada malam hari berkisar antara 70 – 100 lux, atau setara dengan lampu pijar 75 – 100 watt atau TL 40 watt dengan jarak antar titik lampu 2 x 2 m dan dengan ketinggian 1,5 – 2 meter di atas permukaan bedengan. Durasi pemberian cahaya tambahan sekitar 4 – 5 jam per hari mulai pukul 22.00 – 02.00 atau pukul 23.00 – 03.00. Untuk menghemat konsumsi energi listrik, pencahayaan sebaiknya diatur secara siklik dengan 10 menit hidup dan 20 menit mati dengan menggunakan pewaktu atau timer. Pembagian waktu per jamnya ada 6 segmen. Instalasi listrik untuk pencahayaan ini dikonstruksi sebelum penanaman benih dilakukan.

3.4 Sarana dan prasarana produksi lain
Sarana produksi lain yang dimaksud adalah sarana untuk pemeliharaan tanaman seperti sarana pengendalian hama dan penyakit, sarana pengendali suhu dan kelembaban seperti blower, jaring penegak tanaman maupun sarana pemeliharaan dan pendukung proses produksi lainnya.

4. Proses Produksi
Proses produksi yang akan dibahas dalam uraian berikut ini meliputi penyiapan media tanam, penyiapan bahan tanam, penanaman, dan pemeliharaan tanaman (pemberian air, pemupukan, penyiangan, perlindungan tanaman terhadap hama dan penyakit penting serta pemeliharaan khusus lainnya).

4.1 Penyiapan tempat dan media perakaran stek
Krisan diperbanyak dengan menggunakan stek pucuk secara konvensional. Stek pucuk diambil dari tanaman induk yang secara khusus dibudidayakan untuk produksi stek. Stek-stek ini terlebih dahulu diakarkan sebelum ditanam pada lahan bedengan untuk dipelihara lebih lanjut hingga tanaman berbunga. Media perakaran stek biasanya dipilih yang mempunyai sifat porus dan kapasitas menahan air yang besar untuk mempertahankan kelembaban pada masa perakaran,sehingga pertumbuhan akar stek tidak terhambat. Media yang dapat digunakan untuk perakaran stek adalah arang sekam (carbonized rice husk), sekam, pasir, serbuk gergaji, cocopeat,mosspeat, perlite, bahan lain atau kombinasi dari bahan-bahan tersebut dengan sifat serupa yang telah disterilisasi terlebih dahulu. Media perakaran dijaga kelembabannya selama proses pengakaran stek agar pertumbuhan akar dan stek tidak terganggu. EC media pengakaran optimal adalah 0.5 mS/cm2 dengan pH 6.5.Media perakaran kemudian ditempatkan pada rak-rak atau bak-bak pengakaran dengan kedalaman media sekitar 8 – 12 cm. Ruangan tempat perakaran stek dianjurkan terpisah dari rumah lindung tanaman produksi bunga dan tanaman induk, terlindung dari sinar matahari langsung serta dilengkapi sarana instalasi listrik untuk penambahan cahaya dengan lampu di malam hari. Suhu optimal untuk proses pengakaran yang maksimal adalah sekitar 21 oC.

4.2 Penyiapan media tumbuh dalam bedengan
Krisan adalah tanaman yang menghendaki media tanam dengan persyaratan kondisi tertentu yang tetap terjaga selama proses produksi. Media tanam yang digunakan selain untuk tempat tumbuh dan tegaknya tanaman, juga berfungsi sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman krisan dan dapat memberikan kondisi fisik, kimia dan biologi yang kondusif sehingga dapat mendukung pertumbuhan akar pada khususnya dan tanaman secara keseluruhan. Secara umum media tanam harus mempunyai kapasitas menahan air yang besar dan mempunyai aerasi dan drainase yang baik serta bebas hama dan penyakit.
Pembentukan bedengan dapat dilakukan setelah lahan dibersihkan dari sisa gulma yang ada.Pembersihan gulma dapat dilakukan secara mekanis maupun dengan aplikasi herbisida. Tanah kemudian digemburkan dan dibentuk bedengan pertanaman setinggi 25 – 30 cm dengan lebar 1 – 1,2 meter dan jarak antar bedengan 50 – 75 cm, memanjang disesuaikan dengan bentuk lahan dan rumah lindung produksi. Setelah bedengan terbentuk, untuk memperbaiki sifat fisik tanah, dapat ditambahkan pupuk kandang kuda yang sudah matang dengan dosis setara 30 ton/ha dan humus bambu dengan dosis 10 ton/ha. Bersamaan dengan itu, pupuk kimia buatan sebagai pupuk dasar juga diberikan setara dengan dosis 200 kg/ha Urea dan 350 kg/ha KCl dan 300 kg/ha SP 36 secara merata dan kemudian lahan pertanaman disterilisasi. Sterilisasi lahan pertanaman dapat dilakukan dengan menggunakan Basamid sesuai dosis prosedur anjuran, fumigasi, solarisasi dan pemanasan/ pasteurisasi.


Gambar 4. Sterilisasi lahan pertanaman krisan dalam rumah lindung (Foto: Maaswinkel dan Sulyo).

Tanah yang memiliki tingkat kemasaman tinggi hingga pH kurang dari 5,5 perlu ditambahkan kapur pertanian untuk memperbaiki pH tanah. Sumber kapur dapat berupa dolomit, kalsit atau zeagro.Dosis pemberian kapur disesuaikan dengan kemasaman tanah, sebagai contoh untuk dolomit pada tanah dengan pH sekitar 5, dapat diberikan kapur sebanyak 5,02 ton/ha, pH = 5,2 diberikan 4.08 ton/ha, pH = 5,3 sebanyak 3,6 ton/ha dan pH = 5,4 sebanyak 3,12 ton/ha. Pemberian kapur dilakukan dengan menamburkan kapur pada permukaan media bedengan dan diaduk dengan merata. Selanjutnya, 1 hingga 2 hari sebelum tanam, bedengan diberi air hingga kapasitas lapang dan dipasang jaring penegak tanaman yang sesuai serta dibuat lobang tanam sesuai jarak tanam.

4.3 Penyiapan bahan tanam (planting material)
Penggunaan benih yang berkualitas sangat penting untuk diperhatikan dalam proses produksi tanaman krisan. Benih yang berkualitas dalam hal ini adalah benih dengan kemurnian genetik tinggi, sehat (bebas patogen terutama penyakit sistemik), tidak mengalami gangguan fisiologis, mempunyai daya tumbuh kuat dan memiliki nilai komersial di pasaran. Benih yang sehat dan prima berpotensi untuk menghasilkan tanaman yang tumbuh secara optimal dan responsif terhadap agro-input, selanjutnya dapat menghasilkan kualitas bunga yang memadai.
Pemilihan varietas yang ditanam juga penting untuk diperhatikan pada proses produksi tanaman krisan. Selain preferensi konsumen terhadap warna, bentuk dan tipe bunga, karakter lain yang spesifik dan menguntungkan (low input varieties), seperti ketahanan/toleransi terhadap patogen penting, juga layak mendapat perhatian dalam pemilihan varietas yang ditanam.
a. Teknik penyemaian bibit
• Penyemaian di bak: Siapkan tempat atau lahan pesemaian berupa bak-bak berukuran lebar 80 cm, kedalaman 25 cm, panjang disesuaikan dengan kebutuhan dan sebaiknya bak berkaki tinggi. Bak dilubangi untuk drainase yang berlebihan. Medium semai berupa pasir steril hingga cukup penuh. Semaikan setek pucuk dengan jarak 3 cm x 3 cm dan kedalaman 1-2 cm, sebelum ditanamkan diberi Rotoon (ZPT). Setelah tanam pasang sungkup plastik yang transparan di seluruh permukaan.
• Penyemaian kultur jaringan : Bibit mini dalam botol dipindahkan ke pesemaian beisi medium berpasir steril dan bersungkup plastik tembus cahaya.
b. Pemeliharaan pembibitan/penyemaian
Pemeliharaan untuk stek pucuk yaitu penyiraman dengan sprayer 2-3 kali sehari, pasang bola lampu untuk pertumbuhan vegetatif, penyemprotan pestisida apabila tanaman di serang hama atau penyakit. Buka sungkup pesemaian pada sore hari dan malam hari, terutama pada beberapa hari sebelum pindah ke lapangan. Pemeliharaan pada kultur jaringan dilakukan di ruangan aseptik, setelah bibir berukuran cukup besar, diadaptasikan secara bertahap ke lapangan terbuka.
c. Pemindahan Bibit
Bibit stek pucuk siap dipindahtanamkan ke kebun pada umur 10-14 hari setelah semai dan bibit dari kultur jaringan bibit siap pindah yang sudah berdaun 5-7 helai dan setinggi 7,5-10 cm.
Benih tanaman krisan dapat berupa stek pucuk tanpa akar, stek pucuk berakar, anakan maupun tanaman muda hasil aklimatisasi dari kultur jaringan. Untuk pertanaman krisan produksi bunga, umumnya digunakan benih berupa stek pucuk berakar. Stek berakar dapat diperoleh dari penangkar benih krisan komersial yang dapat memberikan jaminan mutu benih berkaitan dengan kebenaran varietas dan kesehatan benih, atau dengan mengakarkan stek krisan tanpa akar (gambar 5) pada media pengakaran terlebih dahulu.

Gambar 5. Potongan stek dengan ukuran 5 – 7 cm dapat digunakan sebagai bahan tanam setelah melalui proses pengakaran stek (Foto: Maaswinkel dan Sulyo).

Untuk pengakaran stek, beberapa protokol/hal berikut perlu mendapat perhatian. Pertama, pucuk diambil dari tunas aksiler yang tumbuh dari tanaman induk yang sehat dan tumbuh optimal. Stek sebagai bahan tanam sangat dianjurkan berasal dari kebun tanaman induk untuk produksi stek dan bukan dari tanaman produksi bunga. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas stek yang dihasilkan dan tanaman muda yang ditanam. Proses produksi dan pengelolaan kebun tanaman induk untuk produksi stek dijelaskan secara integral pada bab selanjutnya. Kedua, stek pucuk diambil dari tunas aksiler yang telah mempunyai 5 – 7 daun sempurna, mempunyai keragaan pertumbuhan apikal yang baik, dan tidak terserang hama penyakit penting serta tidak terjadi gangguan fisiologis. Stek dipanen dengan cara memotong tunas aksiler dengan menggunakan pemotong steril, dan kemudian stek ditempatkan pada wadah di tempat yang lembab. Ketiga, stek tanpa akar ini kemudian diseleksi keseragamannya. Stek-stek kecil dan tidak seragam sangat dianjurkan untuk tidak digunakan sebagai bahan tanam. Pangkal batang stek hasil seleksi ini kemudian diberikan larutan hormon pemacu pertumbuhan/inisiasi akar seperti IBA 0,5 % atau yang lainnya dan selanjutnya ditanam pada media pengakaran stek (Spethmann dan Hamzah, 1988).


(i) (ii)
Gambar 6. (i) Ketidakseragaman pertumbuhan tanaman krisan akibat benih yang tidak seragam, (ii) ketidakseragaman berlanjut hingga tanaman tumbuh dewasa (Foto: Maaswinkel dan Sulyo).

Keempat, setelah stek ditanam pada media pengakaran, stek disungkup/ditutup dengan menggunakan plastik atau bahan lain seperti koran, untuk mengurangi evapotranspirasi yang berlebihan hingga inisiasi akar (± 10 hari), dan selanjutnya sungkup dibuka. Proses pengakaran berlangsung kurang lebih 14 hari. Tata cara pengakaran stek disajikan pada gambar 7. Selama proses pengakaran, stek juga diberikan kondisi hari panjang dengan penambahan cahaya pada malam hari.

(i) (ii)

(iii) (iv)
Gambar 7. (i) Proses penanaman stek pada bak-bak pengakaran, (ii) stek dalam proses pengakaran, (iii) setelah ditanam pada pengakaran, stek ditutup dengan menggunakan plastik (Foto: Maaswinkel dan Sulyo), atau (iv) bahan lain seperti kertas hingga terjadi inisiasi akar ± 10 hari (Foto: sie.informasi/AIBN inzet).

Setelah melalui proses pengakaran selama 14 hari, stek-stek tersebut dapat dibawa ke areal pertanaman dan siap untuk ditanam. Stek ditanam dalam bedengan setelah diberi lubang tanam dan jaring penegak tanaman (untuk bunga potong). Bilamana lahan pertanaman belum siap atau stek akan dikirim ke suatu tempat yang membutuhkan waktu, maka stek dapat disimpan untuk sementara waktu. Stek belum berakar dapat disimpan selama seminggu bila ditempatkan dalam plastik pada suhu 5 oC (gambar 8). Bila stek telah melalui proses pengakaran, stek dapat disimpan dalam bak pengakaran selama 3 hari pada suhu 5 – 8 oC.


(i) (ii)
Gambar 8. (i) Stek belum berakar dalam bungkus plastik pada proses penyimpanan dan (ii) stek yang telah melalui proses pengakaran dan siap untuk ditanam di lahan pertanaman (Foto: Maaswinkel dan Sulyo).

4.4 Penanaman
Untuk tanaman produksi bunga, bahan tanam berupa stek berakar dapat ditanam pada lahan bedengan dengan jarak tanam 12,5 x 12,5 cm (kerapatan tanam 64 tanaman/m2), setelah sebelumnya dibuat lobang tanam dengan menggunakan bambu atau kayu penugal. Untuk kebun tanaman induk produksi stek, stek berakar ditanam dengan kerapatan 25 hingga 40 tanaman/m2.
Faktor kelembaban media tanam perlu mendapat perhatian dalam pertanaman krisan, karena tanaman ini tidak toleran terhadap kekeringan, kelembaban yang rendah dan suhu yang tinggi terutama pada fase awal penanaman. Oleh karena itu, sehari sebelum penanaman, media tanam dalam bedengan sebaiknya diberi air yang cukup sampai lapisan olah (daerah perakaran).
Cara penanaman:
• Ambil bibit satu per satu dari wadah penampungan bibit
• Urug dengan tanah tipis agar perakaran bibit krisan tidak terkena langsung dengan furadan 3G.
• Tanamkan bibit krisan satu per satu pada lubang yang telah disiapkan sedalam 1-2 cm
• Sambil memadatkan tanah pelan-pelan dekat pangkal batang bibit.
• Siram dengan air dan pasang naungan sementara dari sungkup plastik transparan
Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari dimana suhu udara tidak terlalu panas dan sinar matahari belum/tidak lagi terik. Pemberian air juga dilakukan setelah proses penanaman selesai dan pemberian air irigasi selanjutnya dilakukan 2 – 3 hari sekali atau melihat kondisi lingkungan pertanaman.

4.5 Pemupukan
Pupuk dasar adalah Furadan 3G sebanyak 6-10 butir perlubang. Campuran pupuk ZA 75 gram ditambah TSP 75 gram ditambah KCl 25gram (3:3:1)/m2 luas tanam, diberikan merata pada tanah sambil diaduk. Selanjutnya waktu pemupukan dimulai umur 1 bulan setelah tanam, kemudian diulang kontinue dan periodik seminggu sekali, dan akhirnya sebulan sekali. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan pada fase vegetatif yaitu Urea 200 gram ditambah ZA 200 gram ditambah KNO3 100 gram per m 2 luas lahan. Pada fase Generatif digunakan pupuk Urea 10 gram ditambah TSP 10 gram ditambah KNO3 25 gram per m 2 luas lahan, cara pemberiannya dengan disebar dalam larikan atau lubang ditugal samping kiri dan samping kanan.

4.6 Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman yang disajikan meliputi pemberian air, pemberian hari panjang, pemupukan, penyiangan, pemberian jaring penegak untuk tanaman produksi bunga potong serta pemeliharaan khusus lainnya.
a. Pemberian air
Pemberian air dimaksudkan untuk mensuplai kebutuhan air untuk proses fisiologis tanaman dan menjaga stabilitas suhu serta kelembaban media dan lingkungan tanam. Metode pemberian air irigasi telah dijelaskan pada klausul 3.2 tentang sarana irigasi. Pemberian air pada tanaman krisan sangat dianjurkan tidak berlebihan hingga lahan pertanaman menjadi tergenang. Kondisi anaerob akibat tergenang dapat menyebabkan akar kesulitan untuk bernafas dan dapat menyebabkan kematian tanaman. Sebaliknya, kekurangan air atau distribusi air yang tidak merata pada tempat tumbuh tanaman dapat mempengaruhi kualitas pertumbuhan tanaman.
Gejala visual yang terlihat bila tanaman kekurangan air adalah vigor tanaman yang lemah dan pertumbuhan batang yang terhambat (gambar 9). Bila keadaan ini berlanjut pada saat periode inisiasi bunga, maka proses pembentukan bunga dapat terhambat dan perkembangan bunga menjadi tidak merata.

(a) (b)
Gambar 9. (a) Tanaman krisan dengan pertumbuhan normal dan (b) tanaman krisan yang terhambat pertumbuhannya akibat kekurangan air (batang lebih kecil); (ii) Distribusi air yang tidak merata ditunjukkan oleh dua tanda panah warna yang berbeda) di bedengan pada pertanaman krisan.
b. Pemberian hari panjang
Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, krisan tergolong tanaman berhari pendek fakultatif (Facultative-Short Day Plant). Dengan dasar karakteristik tanaman krisan tersebut, maka untuk memperoleh tinggi standar tanaman (panjang tangkai bunga) pada bunga potong, tanaman krisan dipelihara/dipertahankan pada fase vegetatif selama waktu tertentu agar tumbuh hingga mencapai tinggi tertentu dengan aplikasi pemberian cahaya lampu tambahan (untuk menambah panjang hari yang diterima tanaman).
Pemberian hari panjang dimulai pada hari penanaman dan selanjutnya setiap hari hingga tanaman induk tidak produktif menghasilkan stek atau bila mutu stek yang dihasilkan menurun dan keragaan tanaman induk yang bersangkutan tidak dapat diperbaiki lagi. Untuk pertanaman bunga potong, kondisi hari panjang diberikan selama 30 – 40 hari tergantung jenis dan varietas atau hingga tanaman telah mencapai tinggi 50 – 55 cm.
Pemberian cahaya tambahan selama fase vegetatif dapat dilakukan dengan metode nite-break (siklik). Metode siklik ini menurut Maaswinkel dan Sulyo (2004), dianjurkan menggunakan pola 10-20×6 (10 menit lampu menyala diikuti 20 menit lampu dimatikan dalam satu siklus). Metode siklik dapat juga diterapkan dengan pola 5-1×5, 15-15×6, 6-24×8 atau penyinaran terus menerus selama 3 – 5 jam tergantung varietas yang ditanam.
c. Penjarangan dan penyulaman
Waktu penyulaman seawal mungkin yaitu 10-15 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit yang mati atau layu permanen dengan bibit yang baru.
d. Penyiangan
Waktu penyiangan dan penggemburan tanah umumnya 2 minggu setelah tanam. Penyiangan dengan cangkul atau kored dengan hati-hati membersihkan rumput-rumput liar.
e. Penjaringan
Pemberian jaring penegak tanaman berfungsi untuk membantu tumbuh tegaknya tanaman. Jaring penegak dapat dibuat dari tali plastik atau kawat yang dirangkai/dianyam memanjang searah bedengan (gambar 12). Jaring penegak ini sudah terpasang sebelum penanaman stek, dan lebar lubang disesuaikan dengan jarak tanam atau kerapatan tanam.
4.7 Pemeliharaan khusus
Pemeliharaan khusus yang dimaksud di sini meliputi aktifitas pemeliharaan yang belum termasuk dalam rangkaian proses produksi pada subbab/bab terdahulu. Pemeliharaan khusus ini meliputi pinching, penjarangan rumpun dan tangkai bunga dan pemberian zat pengatur tumbuh.
a. Pembuangan titik tumbuh (pinching)
Pinching atau pembuangan titik tumbuh apikal muda dapat berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas aksiler untuk percabangan tanaman. Pada pertanaman krisan untuk produksi bunga khususnya tipe krisan spray, pinching dilakukan pada saat tanaman berumur 2 – 3 minggu. Tunas aksiler baru yang kemudian tumbuh menjadi cabang baru dipelihara hingga berbunga. Cara ini ditempuh untuk meningkatkan jumlah bunga per tanaman sehingga bunga akan terlihat lebih banyak dan kompak dibandingkan bunga yang dipelihara dengan pertanaman tunggal (single stem).
b. Penjarangan tanaman dan percabangan
Penjarangan tanaman dan percabangan dimaksudkan untuk mengurangi kepadatan tanaman dalam lingkungan pertanaman. Penjarangan ini selain ditujukan untuk memberikan ruang tumbuh yang memadai pada tanaman dan meminimalkan kompetisi antar tanaman, juga dimaksudkan untuk memberikan ruang aerasi dan sirkulasi udara yang memadai, dengan demikian tanaman dapat tumbuh optimal dan mengurangi risiko serangan patogen karena terlalu lembab. Penjarangan percabangan juga dimaksudkan untuk membuang bagian tanaman yang rusak akibat serangan organisme pengganggu tanaman atau penyebab fisik lain yang dapat menurunkan mutu dan keragaan tanaman, yang berpeluang menurunkan harga jual produk.
c. Pemberian zat pengatur tumbuh
Pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) dimaksudkan untuk menstimulasi kondisi fisiologis tertentu pada tanaman untuk meningkatkan kualitas dan keragaan tanaman yang diharapkan. Pada pertanaman bunga pot, aplikasi Alar 64 SP dan Dazide 85 dilakukan dengan selang 1 hingga 4 minggu dengan penyemprotan. Aplikasi ZPT ini akan membantu keragaan dan bentuk tanaman menjadi lebih baik, batang lebih tebal serta warna daun lebih gelap.
ZPT akan diserap tanaman dalam durasi 1 jam setelah aplikasi, dan dalam 12 jam, ZPT telah terserap secara keseluruhan. Penyerapan terjadi melalui daun, dan daun yang lebih muda menyerap lebih cepat dari daun yang lebih tua. Aplikasi ZPT disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Pada kondisi panas dan cahaya matahari terik (> 25 oC) atau suhu rendah (< 16 oC), aplikasi ZPT sebaiknya tidak dilakukan.

4.8 Perlindungan terhadap hama dan penyakit
Kondisi keragaan fisik tanaman dan bunga dapat terganggu dengan adanya organisme pengganggu tanaman (OPT) yang menyerang tanaman sehingga dapat menurunkan mutu pertumbuhan tanaman dan kerusakan fisik tanaman secara langsung. Organisme pengganggu tanaman ini juga sebagai penular penyakit (vektor) seperti virus.
a. Hama Tanaman
Hama penting yang sering menyerang dan mengakibatkan kerugian sigifikan pada pertanaman krisan adalah sebagai berikut :
1) Pengorok daun Liriomyza sp.
Ordo : Diptera
Famili : Agromyzidae
Liriomyza sp. bersifat polifag yang dapat menyerang lebih dari 100 spesies tanaman dari berbagai famili seperti Leguminosae, Cucurbitaceae, Solanaceae, Liliaceae, Compositae, dan Umbelliferrae. Di Indonesia, hama ini dilaporkan juga menyerang cabai, kentang, tomat, seledri, kacang merah, kubis, gambas, kapri, brokoli, lettuce, bawang daun, bayam, bawang merah, buncis dan beberapa jenis gulma misalnya bayam air.
Serangga dewasa menusuk daun-daun muda dengan ovipositornya. Selain untuk makan (mengisap cairan) juga untuk meletakkan telur. Larva hidup dengan cara mengorok daun sehingga pada daun terjadi alur-alur bekas korokan yang berliku. Kerusakan tanaman tidak hanya disebabkan oleh kotoran larva, tetapi juga karena tusukan ovipositor serangga betina yang menyebabkan gejala bintik-bintik putih.

Gambar 13a. Serangga hama Liriomyza sp.

Gambar 13b. Kerusakan pada daun akibat serangan Liriomyza.

Hama ini menyerang mulai dari daun yang muda sampai daun tua dengan cara mengisap cairan tanaman yang ke luar dari bekas tusukan. Beberapa larva seringkali secara bersama-sama menyerang satu daun yang sama, sehingga daun layu sebelum waktunya dan mati.
Serangga dewasa (imago) berwarna coklat tua kehitaman, berukuran panjang 1,5 – 2 mm. Sayap transparan mengkilat dan rentang sayap mencapai 2,25 mm. Sayap terlipat di atas tubuhnya. Bentuk tubuh seperti lalat kacang (lebih kecil dan lebih ramping). Telur berwarna putih dan agak transparan dengan panjang 0,2 – 0,3 mm. Larva instar satu berwarna bening, setelah itu menjadi kuning kecoklatan dengan panjang 2,5 – 2 mm. Pengendalian dapat dilakukan dengan sanitasi lingkungan pertanaman, memotong dan membuang daun yang terserang, aplikasi insektisida berbahan aktif kartap hidroklorida atau yang berefek serupa dan rotasi tanaman.
2) Thrips parvispinus Karny
Ordo : Thysanoptera
Famili : Thripidae
Hama ini bersifat polifag dengan tanaman inang utama yaitu cabai, bawang merah, bawang daun dan jenis bawang lainnya, dan tomat. Tanaman inang lain yaitu tembakau, kopi, ubi jalar, labu siam, bayam, kentang, kapas, tanaman dari famili Crusiferae, Crotalaria, kacang-kacangan, mawar, dan sedap malam.

Gambar 14. (i) Gejala serangan pada daun, (ii) bunga, dan (iii) larva serangga hama Thrips (Foto: Maaswinkel dan Sulyo).

Hama ini menyerang dengan cara mengisap cairan tanaman (daun muda/pucuk) dan tunas-tunas muda, sehingga sel-sel tanaman menjadi rusak dan mati. Kerusakan tanaman ini ditandai dengan adanya bercak-bercak putih atau keperak-perakan/kekuning-kuningan seperti perunggu terutama pada permukaan bawah daun. Gejala bercak keperak-perakan awalnya tampak dekat tulang daun menjalar ke tulang daun hingga seluruh permukaan daun menjadi putih. Daun kemudian menjadi coklat, mengeriting atau keriput dan akhirnya kering. Pada intensitas serangan yang tinggi, tepi daun berkerut, menggulung ke dalam dan timbul benjolan seperti tumor sehingga mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan bila daun tersebut dibuka, akan terdapat imago yang berkelompok. Tanaman yang merana tidak akan menghasilkan bunga yang prima. Hama ini juga bertindak sebagai vektor Tomato Spotted Wilt Virus (TSWV). Populasi dan serangan thrips biasanya tinggi pada musim kemarau dan menurun pada musim hujan.
Serangga dewasa (imago) berukuran sangat kecil, dengan panjang tubuh + 1 mm dan berwarna kuning pucat sampai coklat kehitaman. Imago yang sudah tua berwarna agak kehitaman, berbercak-bercak merah atau bergaris-garis. Pengendalian hama ini, yaitu dengan cara mengatur waktu tanam, repellent dan insektisida berbahan aktif merkaptodimetur sesuai dosis anjuran.
3) Ulat Tanah Agrotis ipsilon Hufn
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Hama ini selain menyerang tanaman krisan, juga menyerang tanaman tomat, jagung, padi, tembakau, tebu, bawang, kubis, dan kentang. Larva serangga ini aktif pada malam hari dan menyerang tanaman dengan cara menggigit atau memotong ujung batang tanaman muda, sehingga mengakibatkan tunas apikal atau batang tanaman terkulai dan layu. Daya serang ulat ini relatif besar sehingga dapat menyebabkan kerugian yang signifikan.
Imago serangga berupa ngengat dan tidak menyukai cahaya matahari langsung, sehingga sering banyak dijumpai bersembunyi di permukaan daun bagian bawah. Sayap depan berwarna dasar coklat keabu-abuan dengan bercak-bercak hitam. Pinggiran sayap depan berwarna putih. Warna dasar sayap belakang putih keemasan dengan pinggiran berenda putih. Panjang sayap depan berkisar 16 – 19 mm dan lebar 6 – 8 mm. Imago dapat bertahan hidup selama 20 hari.
Larva aktif pada malam hari dan menyerang tanaman dengan cara menggigit pangkal batang dan daun. Pengendalian dengan cara mekanis yaitu mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan memberikan pestisida berbahan aktif carbofuran pada areal pertanaman.
4) Tungau Merah Tetranychus sp.
Ordo : Acarina
Famili : Tetranychidae

Gambar 15. Tungau Tetranychus sp. dapat menyerang tanaman krisan dari muda hingga dewasa (Foto: handoko)

Hama ini bersifat polifag dan merupakan jenis yang paling umum di daerah tropis. Bagian tanaman yang diserang antara lain tangkai daun dan bunga. Imago sering berada pada daun bagian bawah. Gejala serangannya tampak pada daun yang berbintik-bintik kemudian bergabung dan jaringan daun seluruhnya menjadi kuning akhirnya kemerah-merahan. Tungau tampak seperti bercak merah, melengkung pada permukaan bawah daun (gambar 16). Bila serangan berat daun layu dan gugur. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sanitasi lingkungan terutama terhadap gulma yang juga merupakan inang serangga ini dan atau dengan aplikasi akarisida berbahan aktif dikofol atau piridaben.
5) Ulat Grayak Spodoptera litura F.
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Larva yang masih kecil merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas/transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Gejala serangan pada daun rusak tidak beraturan, bahkan kadang-kadang hama ini juga memakan tunas dan bunga. Pada serangan berat menyebabkan daun tanaman habis. Intensitas serangan tinggi biasanya terjadi pada musim kemarau.

Gambar 16. Serangan ulat grayak (Spodoptera litura F) dapat menyebabkan kerusakan fisik tanaman yang signifikan (Foto : suhardi)
Pengendalian dengan sanitasi lingkungan pertanaman terutama gulma yang juga merupakan inang hama ini dan dengan penggunaan insektisida berbahan aktif deltametrin, fipronil atau tiodikarb.
6) Siput Parmarion pupillaris Humb
Phyllum : Mollusca
Hewan ini juga bersifat polifag antara lain pada kol, sawi, tomat, kentang, tembakau, karet dan ubi jalar. Gejala serangan sering dijumpai pada tanaman yang masih muda. Siput biasanya menyerang daun dan membuat lubang-lubang tidak beraturan. Serangan ditandai dengan adanya bekas lendir sedikit mengkilat dan kotoran. Selain daun, siput juga dapat menyerang akar dan tunas anakan. Tanaman yang terserang menjadi rusak (terkoyak) atau bahkan dapat mengakibatkan kematian tanaman.

b. Penyakit Tanaman
Tanaman krisan mudah terserang penyakit bila kelembaban terlalu tinggi atau bila tanaman dalam kondisi stress/tidak sehat. Lingkungan yang lembab terjadi pada saat musim penghujan, atau karena kondisi lingkungan pertanaman rapat sehingga sirkulasi udara yang tidak berjalan lancar. Beberapa penyakit yang sering dijumpai pada tanaman krisan dapat disebabkan oleh bakteri, fungi, nematoda dan virus.
1) Bakteri
Lanas daun Pseudomonas

Gambar 18. Bercak/lanas hitam daun pada tanaman muda krisan akibat serangan P.cichorii (Foto : kbudiarto)

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas chicorii. Gejala penyakit ini berupa spot/bercak coklat kehitaman berair pada daun dan melebar hingga ke seluruh daun seperti yang disajikan pada gambar 18. Spot ini seolah-olah mempunyai inti dan perlahan-lahan terpisah seperti gelombang. Pada stadium serangan lebih lanjut, daun akan berwarna kecoklatan dan mengering. Bakteri ini menyerang dengan intensitas tinggi bilamana kelembaban lingkungan pertanaman tinggi seperti pada musim hujan. Bila serangan sudah parah, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian tanaman. Penanganan kuratif penyakit ini belum diketahui sampai saat ini. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan menanam bahan tanaman bebas penyakit, penyiraman dengan air yang tidak mengandung bakteri ini dan tidak membasahi daun terlalu lama, serta sanitasi lingkungan.
2) Fungi (jamur)
a) Karat Puccinia (Japanese white rust)
Penyakit ini disebabkan oleh dua macam cendawan yaitu Puccinia chrysanthemi Roze (karat hitam) dan P. horiana Henn (karat putih). Di daerah tropis seperti Indonesia, serangan karat putih lebih umum dijumpai daripada karat hitam. Gejala serangan karat putih adalah terdapatnya bintil-bintil (pustul) putih pada daun bagian bawah yang berisi telium (teliospora) cendawan atau terjadi lekukan-lekukan mendalam berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas. Teliospora bersel dua dan berdinding tebal. Pada serangan lebih lanjut, penyakit ini dapat menghambat perkembangan bunga.

Gambar 19. Gejala serangan karat terlihat dari daun bagian atas (Foto: Maaswinkel dan Sulyo)
Pengendalian dengan sanitasi lingkungan, aplikasi fungisida, penanaman varietas yang tahan/toleran dan perbaikan lingkungan fisik pertanaman terutama aerasi dan kelembaban lingkungan pertanaman dengan penjarangan tanaman atau menanam dengan kerapatan lebih renggang.
b) Kapang kelabu Botrytis cinerea Pers.
Cendawan ini mempunyai inang yang luas, seperti gladiol, anggrek, violces, begonia, lili, mawar, bunga kertas, dan gulma air. Spora berkecambah pada petal bunga, yang kemudian berkembang menjadi bercak kecil dan bundar dan membesar. Bila kelembaban pada lingkungan pertanaman tinggi (terutama pada musim hujan), intensitas serangan dapat meningkat dan menyebabkan busuk bunga.

Gambar 20. Gejala serangan cendawan Botrytis pada pertanaman dan bunga (Foto: Maaswinkel dan Sulyo).

c) Bercak daun Septoria chrysanthemi Allesch, dan S. leucanthemi Sacc. et Speg.
Gejala serangan S. chrysanthemi berupa bercak-bercak hitam pada daun. Bercak berbentuk bulat dan berbatas tegas, sedangkan S. leucanthemi bercak-bercaknya berwarna coklat, berbentuk bulat berukuran besar hingga 3 cm dan mempunyai lingkaran-lingkaran yang jelas. Pada bercak yang disebabkan S. chrysanthemi terdapat badan buah cendawan (piknidium) yang mempunyai lebar 150 – 250 μm, dan berisi konidium berbentuk tabung, bersel 3 – 4, berukuran 50 – 80 x 2 – 3 μm. S. leucanthemi mempunyai konidium yang lebih besar, dengan ukuran 100 – 130 x 4 – 5 μm.
Penyakit akan berkembang bila intensitas cahaya kurang, kelembaban tinggi, jarak tanam terlalu rapat, dan pemberian pupuk nitrogen yang terlalu banyak. Penyakit ini jarang menyerang pada musim kemarau. Pengendalian dilakukan dengan pengaturan musim tanam dan memperbaiki lingkungan pertanaman.
d) Penyakit tepung Oidium chrysanthemi Rab.
Gejala serangan penyakit ini yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun yang sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. Serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25 °C. Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya dapat berkecambah dalam udara dengan kelembaban nisbi rendah (50-75%).
e) Layu Fusarium oxysporum Schlecht. ex. Fr. dan Verticillium albo-atrum Reinke et Bert.
Gejala serangan Fusarium sp. adalah tanaman layu, daun menguning dan mengering mulai dari daun bagian bawah merambat ke daun bagian atas, dan akhirnya mengakibatkan kematian tanaman. Potongan batang melintang pada tanaman yang sakit menunjukkan warna coklat melingkar di sekeliling pembuluhnya. Sedangkan cendawan Verticillium sp. menyebabkan daun-daun menguning, kemudian layu permanen, mirip dengan gejala serangan Fusarium, tetapi daun-daun yang terserang berguguran.
Penyakit ini mudah menular melalui benih dan alat pertanian yang digunakan. Penanganan kuratif penyakit ini belum banyak diketahui. Pencegahan penyakit dapat melalui sterilisasi lahan pra tanam, penggunaan bibit yang sehat dan sanitasi lingkungan.
f) Busuk akar dan pangkal batang
Penyakit ini disebabkan oleh fungi Pythium spp. Penyakit ini sering dijumpai pada proses pengakaran stek hingga pada tanaman muda pada awal pertumbuhan. Gejala serangan yaitu kelayuan tanaman dan daun menguning terutama daun bagian bawah. Pangkal batang yang berbatasan dengan akar busuk berwarna kehitaman. Bila tanaman dicabut, akar berwarna coklat sampai hitam dan mengkerut. Bila bagian yang akarnya busuk dipegang, bagian luar akan mudah terlepas dari bagian dalamnya. Pencegahandengan menggunakan bahan dan media tanam yang bebas penyakit serta penempatan bak-bak pengakaran lebih tinggi dari permukaan tanah untuk mengurangi kemungkinan penularan penyakit. Saat ini sudah banyak juga fungisida yang dapat mengendalikan penyakit ini.

Gambar 21. Busuk pangkal batang Pythium dan perbandingan kondisi stek tanaman sehat (kiri) dan tanaman yang terserang cendawan

3) Nematoda
Root Knot oleh Nematoda akar Meloidogyne sp.
Nematoda ini mempunyai inang yang sangat luas seperti kentang, kubis, tomat, ubi jalar, tembakau, teh, tebu, jahe, dan padi-padian. Gejala khas serangan nematoda akar adalah terbentuknya bintil-bintil akar. Pada bagian akar tanaman yang terinfeksi terbentuk kanker (gall) atau bahkan busuk bila serangan sudah serius. Gejala umum yang dapat diamati adalah tanaman menjadi layu dan daun menguning akibat rusaknya perakaran. Pertumbuhan pada bagian atas tanaman menjadi terhambat.

4) Virus dan Viroid
Virus yang telah terdeteksi menyerang tanaman krisan adalah Cucumber Mosaic Virus (CMV) dan Chrysanthemum Virus-B (CVB). Kedua jenis virus mengakibatkan penghambatan pertumbuhan tanaman secara signifikan dan bahkan menyebabkan malformasi bagian-bagian tanaman seperti daun dan petal bunga. Tanaman terinfeksi yang rentan terhadap virus menunjukkan gejala daun yang mengecil dan bulat, penghambatan atau bahkan stagnasi pertumbuhan yang jelas dan memudarnya warna (discolored) serta klorotik pada daun dan petal, disertai dengan pertumbuhan bunga yang tidak sempurna. Kutu daun (Aphids) dikenal dapat menjadi vektor penyebaran kedua virus di atas pada pertanaman. Selain serangga dan benih sakit, virus juga dapat menular melalui alat-alat pertanian seperti pisau stek, gunting dan lain-lain.

Gambar 23. Malformasi bentuk bunga dan warna hijau daun yang tidak merata serta penghambatan pertumbuhan tanaman akibat serangan virus

6. Panen dan Pasca Panen
5.1 Panen
Penentuan stadium panen adalah ketika bunga telah setengah mekar atau 3-4 hari sebelum mekar penuh. Tipe spray 75-80% dari seluruh tanaman. Umur tanaman siap panen yaitu setelah 3-4 bulan setelah tanam.
a. Cara panen
Panen sebaiknya dilakukan pagi hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi dan saat bunga krisan berturgor optimum. Pemanenan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dipotong tangkainya dan dicabut seluruh tanaman. Tata cara panen bunga krisan: tentukan tanaman siap panen, potong tangkai bunga dengan gunting steril sepanjang 60-80 cm dengan menyisakan tunggul batang setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah.
b. Prakiraan produksi
Perkiraan hasil bunga krisan pada jarak 10 x 10 cm seluas 1 ha yaitu 800.000 tanaman.

5.2 Pasca panen
a. Pengumpulan
Kumpulkan bunga hasil panen, lalu ikat tangkai bunga berisi sekitar 50-1000 tangkai simpan pada rak-rak.
b. Penyortiran dan penggolongan
Pisahkan tangkai bunga berdasarkan tipe bunga, warna dan varietasnya. Lalu bersihkan dari daun-daun kering atau terserang hama. Buang daun-daun tua pada pangkal tangkai. Kriteria utama bunga potong meliputi penampilan yang baik, menarik, sehat dan bebas hama dan penyakit. Kriteria ini dibedakan menjadi 3 kelas yaitu:
1) Kelas I untuk konsumen di hotel dan florist besar, yaitu panjang tangkai bunga lebih dari 70 cm, diameter pangkal tangkai bunga lebih 5 mm.
2) Kelas II dan III untuk konsumen rumah tangga, florits menengah dan dekorasi massal yaitu panjang tangkai bunga kurang dari 70 cm dan diameter pangkal tangkai bunga kurang dari 5 mm.

c. Pengemasan dan pengangkutan
Tentukan alat angkutan yang cocok dengan jarak tempuh ke tempat pemasaran dan susunlah kemasan berisi bunga krisan secara teratur, rapi dan tidak longgar, dalam bak atau box alat angkut.

7. Analisis ekonomi budidaya tanaman
Perkiraan analisis budidaya tanaman krisan seluas 0,5 ha dengan jarak tanam 10 x 10 cm. Analisis dilakukan pada tahun 1999 di daerah Bandung.
a. Biaya produksi
1) Sewa lahan 1 tahun Rp. 1.500.000,-
2) Bibit : 500.000 batang @ Rp. 50,- Rp. 25.000.000,-
3) Pupuk dan kapur
 Pupuk kandang: 15.000 kg @ Rp. 150,- Rp. 2.250.000,-
 Urea: 4.150 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 6.225.000,-
 ZA: 4.600 kg @ Rp. 1.250,- Rp. 5.750.000,-
 SP-36: 525 kg @ Rp. 2.000,- Rp. 1.050.000,-
 KCl: 125 kg @ Rp. 1.650,- Rp. 206.250,-
 KNO3: 2.375 kg @ Rp. 4.000,- Rp. 9.500.000,-
 Kapur pertanian: 2000 kg @ Rp.200,- Rp. 400.000,-
4) Pestisida Rp. 1.500.000,-
5) Biaya tenaga kerja
 Penyiapan lahan 50 HKP @ Rp. 10.000,- Rp. 500.000,-
 Pemupukan 10 HKP + 20 HKW Rp. 250.000,-
 Penanaman 5 HKP + 50 HKW Rp. 425.000,-
 Pemeliharaan 5 HKP + 100 HKW Rp. 800.000,-
6) Biaya lain-lain (pajak, iuran, alat) Rp. 500.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 55.856.250,-

Pendapatan 400.000 tanaman @ Rp. 225,- Rp. 90.000.000,-
Keuntungan Rp. 34.143.750,-
Parameter kelayakan usaha : 1. Rasio Output/Input =1,611
Keterangan: HKP Hari Kerja Pria, HKW Hari Kerja Wanita

8. Standar produksi
Standar meliputi klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan pengemasan.
a. Klasifikasi dan Standar Mutu
Mutu dan pengepakan bunga untuk ekspor ke pasaran Internasional sangat ditentukan oleh negara pengimpor. Untuk Jepang standar yang berlaku adalah sebagai berikut:
1) Varietas adalah Kiku berwarna putih atau kuning yang dipanen saat bunga belum mekar penuh, panjang tangkai 70 cm, lurus dan tunggal. Duapertiga daun masih lengkap, utuh serta berukuran seragam dan bebas hama penyakit.
2) Satu ikatan terdiri dari 20 tangkai bunga dan dibungkus dengan pembungkus dari kertas khusus Sleeves. Kuntum tidak tertutup seludang, pangkal bunga diberi kapas basah.
3) Pengepakan dilakukan dalam kotak kardus dengan kapasitas 10 ikatan.
4) Pengangkutan dilakukan dengan alat angkut bersuhu udara 7-8 derajat C dengan kelembaban udara 60-65%.
b. Pengemasan
a. Cara pengemasan
Pangkal tangkai bunga krisan potongan dimasukan ke dalam tube berisi cairan pengawet/dibungkus dengan kapas kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik berisi cairan pengawet lalu dikemas dalam kotak karton / kemasan lain yang sesuai.
b. Pemberian merek, pada bagian luar kemasan diberi tulisan:
1) Nama barang/varietas krisan.
2) Jenis mutu.
3) Nama atau kode produsen/eksportir.
4) Jumlah isi.
5) Negara tujuan.
6) Hasil Indonesia

9. Tanaman Induk untuk Produksi Stek
Tanaman induk adalah tanaman yang dipelihara khusus untuk produksi stek. Bahan tanam untuk tanaman induk dapat berupa stek berakar hasil perbanyakan konvensional atau tanaman yang sudah diaklimatisasi hasil perbanyakan kultur jaringan. Berdasarkan fungsinya sebagai penghasil stek, maka tanaman induk dipelihara selalu dalam keadaan vegetatif aktif dengan penyinaran tambahan hingga tanaman tidak produktif.
Stek yang dihasilkan harus berasal dari tunas samping (tunas aksiler) yang tumbuh dari ketiak daun. Tunas aksiler yang tumbuh dari ketiak daun terstimulasi setelah pertumbuhan apikal pada cabang yang sama terhenti (dipanen atau di-pinching). Pemeliharaan tanaman induk perlu mendapat perhatian yang serius,sehubungan dengan kualitas stek yang akan dihasilkan. Keragaan tanaman induk akan mempengaruhi mutu stek yang dihasilkan dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tanaman yang hendak ditanam. Tata cara budidaya tanaman induk adalah sebagai berikut.
• Minggu 0 – 2 = stek dalam proses pengakaran
• Minggu 3 = penanaman stek dalam bedengan
• Minggu 4 = pinching
• Minggu 7 – 23 = panen/produksi stek
• Minggu 23 = tanaman induk dibongkar/diganti dengan tanaman baru.
Dengan demikian, usia produktif tanaman dalam menghasilkan stek yaitu pada minggu ke 7 – 23 (16 minggu).
Tunas apikal dipotong dengan menggunakan pemotong steril dengan menyisakan 2 – 3 daun pada batang/cabang yang dipotong, sekalipun jumlah tunas aksiler yang tumbuh dari ketiak daun berbanding lurus dengan sisa daun yang ditinggalkan hingga 7 – 8 daun. Hal ini berhubungan dengan pemeliharaan bentuk tajuk dan kanopi tanaman induk agar tidak cepat rimbun sehingga stek yang dihasilkan memiliki kualitas yang memadai.
Kualitas pertumbuhan tanaman krisan sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan tanamnya (kualitas stek). Selanjutnya kualitas stek sangat dipengaruhi oleh performa dan sejarah pertumbuhan tanaman induk dimana stek tersebut berasal. Stek berkualitas rendah dapat disebabkan oleh kesalahan penanganan stek setelah panen, proses pengakaran stek atau bahkan kualitas tanaman induk tanaman sumber stek tersebut sudah tidak memadai. Tanaman induk yang telah terinduksi ke fase generatif akan menghasilkan tunas aksiler dengan pertumbuhan lebih lambat dan sedikit. Dalam proses pengakaran, pertumbuhan akar lebih lambat sehingga periode pengakaran lebih lama dengan jumlah lebih sedikit dan pendek. Gejala yang sama pun sering terlihat bila stek diambil dari tanaman induk yang sudah tua dan tidak produktif lagi dalam menghasilkan stek. Kandungan karbohidrat pada tunas aksiler juga mempengaruhi kecepatan dan kekompakan pertumbuhan akar stek pada saat proses pengakaran. Semakin sering tanaman induk dipanen steknya, maka kecepatan dan kualitas pertumbuhan tunas aksiler akan semakin menurun karena distribusi karbohidrat yang tidak merata, sehingga kualitas stek yang dihasilkan pun akan semakin rendah. Budidaya tanaman induk dilakukan dalam rumah lindung yang terpisah dengan pertanaman untuk produksi bunga. Pertanaman induk dapat menggunakan mulsa plastik untuk mengurangi pertumbuhan gulma yang cepat. Mulsa ini juga berfungsi untuk menjaga kestabilan sifat fisik dan kimia tanah pada lahan bedengan selama proses pertanaman.
Pada pertanaman induk krisan, pemberian GA3 dengan konsentrasi 100 ppm perminggu selama masa produktif dianjurkan untuk menstimulasi pertumbuhan tunas aksiler dan mengurangi etiolasi pada tunas aksiler (Marwoto, et. al., 2000). Selain pupuk dasar, pemupukan lanjutan dilakukan setiap tiga minggu dan pupuk daun dengan frekuensi dan dosis yang sama seperti tanaman produksi bunga hingga tanaman induk tidak produktif menghasilkan stek. Setelah tanaman induk berumur lebih dari 23 minggu atau bila produktifitas tanaman induk dan kualitas stek yang dihasilkan menurun, tanaman induk dapat dibongkar dan diganti dengan tanaman baru.


DAFTAR PUSTAKA

Lukito AM. 1998. Rekayasa Pembungaan Krisan dan Bunga Lain. Trubus no. 348. Serial online. [25 Maret 2011].
Malik, Abdul. 2010, Permintaan Bunga Krisan Meningkat. http://www.antarajatim.com/lihat/berita/50197/permintaan-bunga-krisan-meningkat. [25 Maret 2011].
Rukmana, Rahmat.1997. Krisan. Yogyakarta: Kanisius.
Sartika, Dewi. 1998. Krisan Baru Produk Indonesia. Trubus no. 342. Serial online. [25 Maret 2011].
Wuryan, 2008. Budidaya Krisan Bunga Potong. http://wuryan.wordpress. com/2008/04/27/budidaya-krisan-bunga-potong-sarana-dan-prasarana-produksi/. [25 Maret 2011].

Trubus no. 338. 1998. Kebun bunga Potong Ciputri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar